Make your own free website on Tripod.com

MENUAI PADA WAKTU PACEKLIK
Oleh: Pdt.Yohan Hadi Prayitno, MBA
(Gembala Sidang GBI Altar Filadelfia Semarang)
Dimuat dalam majalah "Suluh Kasih" Februari 1994
ditulis ulang oleh : Ir. Eddy Sriyanto telp.(024)70125869


Barangkali judul dari bab ini kelihatan aneh dan agak tidak masuk akal.Mungkin Saudara pun juga akan bertanya,"Mana bisa ada panen pada masa paceklik?"
     Secara alamiah, memang pada masa paceklik tidak mungkin ada panen. Yang kita ketahui selama ini, di masa paceklik terjadi kekeringan yang luar biasa. Dan mungkin juga, kelaparan akan terjadi di mana-mana pada masa seperti itu. Semua orang, tidak hanya para petani, akan merasa susah, khawatir,cemas, takut, gelisah dan resah karena bahan-bahan makanan pasti akan menjadi mahal.
     Bagaimanakah sikap kita sebagai orang Kristen seandainya mengalami masa paceklik atau masa kelaparan seperti itu? Sebenarnya masa paceklik itu sudah terjadi pada ribuan tahun yang lalu. Masa paceklik bukan saja baru terjadi pada tahun-tahun belakangan ini.
     Dalam kitab Kejadian, ada suatu peristiwa yang sangat menarik untuk disimak yang berkaitran dengan masalah tersebut di atas. Peristiwa ini dituliskan dalam Kejadian 26:1-6, sebagai berikut:

Maka timbullah kelaparan di negeri itu.Ini bukan kelaparan yang pertama, yang terjadi dalam jaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, karena Abimelekh, raja orang Filistin. Lalu Tuhan menampakkan diri kepadanya serta berfirman, "Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena Abraham telah mendengarkan firmanKu dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku." Jadi tinggallah Ishak di Gerar.

Orang Yang Taat Dipelihara Allah Secara Luar Biasa.
   Kelaparan yang terjadi pada zaman Ishak itu bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya pun juga pernah terjadi kelaparan, yaitu pada jaman Abraham, ayah Ishak (Lihat Kejadian 12:10-20).
   Ketika kelaparan itu terjadi, tentu Ishak pun merasa bingung, cemas, atau khawatir seperti yang dialami oleh kebanyakan orang pada umumnya. Dimana-mana terjadi kekeringan yang sangat dahsyat, sehingga sawah-sawah tak dapat menghasilkan panen sama sekali. Gandum sebagai bahan makanan pokok sangat sulit didapatkan, kalaupun ada harganya pasti mahal sekali. Ishak mengalami masa paceklik. Semua orang di negerinya bingung karena makanan sangat sukar diperoleh pada waktu itu.
Akan tetapi berkat yang luar biasa itu, sebagai penggenapan janji dan sumpah Allah kepada Abraham, justru diterima Ishak secara langsung pada saat terjadi masa kelaparan yang sangat hebat di negerinya. Pada waktu kelaparan itu terjadi, Ishak terpaksa meninggalkan negerinya dan pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. Dan di sanalah ia mengalami kenyataan dari janji berkat yang diberikan Tuhan kepadanya. Dalam Kejadian 26: 12-13 dikatakan: "Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati Tuhan. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya."
Ishak adalah figur dari orang Kristen yang dipel;ihara dan diberkati Tuhan secara luar biasa dalam segala keadaan. Apa yang dilakukan dan diterimanya pada waktu itu tidak dialami orang lain. Dalam ayat-ayat di atas dikatakan bahwa ia menabur di tanah yang sedang dilanda kekeringan dan kelaparan.
Bagi banyak orang, apa yang dilakukan Ishak itu mungkin dianggap aneh. Mereka pasti berpikir apakah untungnya menabur benih pada waktu musim paceklik. Secara alami, benih itu akan mati bila ditanam atau ditabur dalam keadaan seperti itu. Usaha tersebut hanya akan menjadi sia-sia belaka, merupakan pemborosan waktu,tenaga, biaya dan sebagainya.
Namun dalam Firman Tuhan di atas tadi dikatakan bahwa akhirnya Ishak menerima hasil panen yang luar biasa besarnya, yaitu seratus kali lipat banyaknya, justru di tengah-tengah masa paceklik. Bukankah itu merupakan sesuatu hal benar-benar ajaib? semua orang dilanda kesusahan dan kesulitan yang besar, tetapi sebaliknya Ishak memperoleh hasil yang sangat besar.
Ketaatan Yang Mendatangkan Berkat.
Apakah rahasianya sehingga Ishak bisa menerima berkat Allah yang besar itu? Ada sesuatu yang telah dikerjakan Ishak sebelum berkat Allah, yaitu hasil panen seratus kali lipat, diterimanya.
Dalam Kejadian 26:2 dikatakan bahwa Tuhan berfirman kepada Ishak, "Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu." Ini merupakan suatu perintah yang disampaikan Tuhan secara pribadi kepada Ishak.
Sebenarnya pada masa itu Mesir merupakan daerah yang subur dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. Disana air sangat berlimpah-limpah. Sebaliknya di tanah Kanaan sedang dilanda kekeringan yang panjang, sehingga tanah-tanah pertanian menjadi gersang dan tak dapat ditanami apa-apa lagi. Secara manusia, Ishak pasti ingin pergi ke Mesir karena di sana daerahnya lebih menguntungkan.
Tetapi sebelum ia melakukan sesuatu menurut pikiran dan keinginannya sendiri, Tuhan terlebih dahulu berkata kepadanya, "Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu". Ishak mendengarkan perintah Tuhan ini dengan sungguh-sungguh dan menaatinya.Dan ketaatan itulah yang akhirnya mendatangkan berkat kepadanya.
Seandainya saja Ishak pada waktu itu berkata, "Wah, di sini tanahnya kering, bisa-bisa keluargaku pun mati kelaparan akibat masa paceklik ini.Lebih baik pindah ke Mesir saja, di sana tanahnya subur dan banyak airnya. Aku akan bercocok tanam di sana ". maka hal itu berarti ia tidak taat kepada perintah Allah dan hanya menuruti keinginannya sendiri. Jika hal itu dilakukannya, apakah yang akan dialaminya?
Saya yakin tentu bukan berkat atau kemakmuran yang akan diterimanya, tetapi sebaliknya ia akan mengalami banyak kesukaran dan kekurangan. Walaupun tampaknya di Mesir lebih menguntungkan pula bagi Ishak. Mengapa? Sebab ia melanggar atau tidak taat terhadap perintah Tuhan. Kalau ia perghi ke Mesir, mungkin orang-orang Mesir bisa menikmati hasil panen yang besar, tetapi ia justru akan mengalami masa paceklik dan sengsara yang besar di sana. Bukan panen di waktu paceklik yang akan dialaminya, melainkan paceklik di waktu panen.
Puji Tuhan, ternyata Ishak menaati perintah Tuhan, Ia pergi ke tempat yang dikehendaki Tuhan, yaiiiitu di Gerar. Sebenarnya tempat yang dikunjunginya itu, keadaan tidak berbeda dengan negerinya sendiri. Di Gerar pun terjadi kekeringan dan masa paceklik yang panjang. Namun yang justru besar, ia mendapatkan panen besar di waktu paceklik.
Tidakkah kita semua ingin mengalami seperti yang dialami oleh Ishak ini? Kita semua pasti ingin memperoleh panen di waktu paceklik. Mengalami berkat di waktu terjadi masa kesukaran, kekeringan atau kekurangan. Bila ingin panen di waktu paceklik, maka kita juga harus terlebih dahulu taat terhadap segala perintah Tuhan yang terdapat dalam Firman-Nya.
Jalan Menuju Kehidupan Yang Diberkati Tuhan.
Marilah kita teliti lebih dalam lagi rahasia hidup yang diberkati Tuhan sebagaimana yang telah dialami Ishak. Bila kita mempelajari Kejadian 26 seluruhnya dengan sungguh-sungguh, maka ada beberapa rahasia yang dapat kita temukan sebagai jalan menuju kehidupan yang diberkati Tuhan.Apakah itu?

1. Menabur Dalam Masa Kekeringan

Dalam Kejadian 26:12 dikatakan,"Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati Tuhan".Ishak menabur benih ketika terjadi kelaparan di Gerar. Dengan kata lain, ia menabur di saat menghadapi kesukaran, kekeringan atau kekurangan. Hal inilah yang dapat mengubah kehidupan Ishak.
Dahulunya Ishak juga bukanlah orang yang kaya, sama seperti orang lain yang mengalami kekurangan.Baru setelah ia menabur dalam masa kekeringan itu, Tuhan mencurahkan berkatNya secara luar biasa. Dikatakan dalam ayat 13,"Dan orang itu (Ishak) menjadi kaya, bahklan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya". Ayat tersebut membuktikan bahwa Ishak bisa menjadi sangat kaya setelah ia menabur pada saat terjadi kelaparan.

Ingat Hukum Memberi dan Menabur

Ishak mengerti prinsip yang dikehendaki oleh Firman Allah, dan melakukannya sungguh-sungguh dalam hidupnya. Ia menabur di saat menghadapi masa kelaparan yang dahsyat. Hal tersebut berarti bahwa ia berani memberi atau berkorban ketika mengalami kekurangan. Ia menabur , karena itu ia berhak pula untuk menuai hasilnya. Dengan kata lain, ia tidak pernah akan menuai hasil apa-apa jika ia tidak menabur dalam masa kekeringan itu.
Bukankah Tuhan Yesus pun bersabda, "Berilah dan kamu akan diberi ..." (Lukas 6:38). Firman Tuhan juga mengatakan, "orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai " (Mazmur 126:5)
Ishak mengerti prinsip Firman Tuhan itu dan menaatinya, karena itulah ia diberkati Tuhan dengan berkelimpahan ketika ia tinggal di Gerar.
Sudahkah kita menerapkan prinsip Firman Tuhan itu dalam kehidupan kita? Alangkah sayangnya bila sedikit sekali orang Kristen yang mau mengerti dan menerapkan prinsip tersebut dalam kehidupan mereka.

Seringkali kita beranggapan bahwa prinsip itu tidak mudah untuk dipraktekkan. Kecenderungan kita ialah jangan memberi kalau sedang dalam kekurangan. Prinsip yang logis atau masuk akal yaitu jangan menabur kalau sedang musim paceklik. Jika menabur benih di tanah yang kering, maka benih itu akan mati.Nanti kalau sudah hujan ,.barulah menabur.Inilah logika yang dapat diterima menurut pikiran manusia.
Tetapi ,prinsip Firman Tuhan sangat berbeda dengan prinsip yang dimiliki manusia.Supaya kita bisa taat terhadap Firman Tuhan, dioperlukan suatu langkah atau tidakan iman! Bila kita selalu bersandar pada pertimbangan akal ataao logika, maka kita tidak akan pernah dapat melakukan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan Allah dalam firman-Nya.
Ishak belajar memberi atau berkorban di dalam kekurangannya.Ia lebih taat kepada perintah Tuhan dari[pada logika manusia. Di dalam masa yang sulit, ia berani memberi dan mengorbankan sesuatu di hadapan Allah. Dan karena tindakan imannya itulah, akhirnya Tuhan memberkati dia dengan hasil seratus kali lipat, suatu hasil yang jauh lebih besar dan lebih banyak daripada apa yang dipetrkirakan sebelumnya. Seandainya ia tidak menabur benih pada waktu itu, maka ia juga tidak akan pernah menuai hasil yang berlimpah-limpah.

Berbicara tentang hasil atau panen, maka ada dua prinsip yang perlu kita ketahui,yaitu:

  1. Hasil atau panen yang didapatkan sangat tergantung dari jumlah benih yang ditaburkan. Firman Tuhan mengatakan,"Orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga" (II Korintus 9:6). Jadi kalau kita hanya menabur sedikit, maka hasil yang kita tuai pun akan sedikit pula.Makin banyak kita memberi atau berkorban kepada Tuhan, makin banyak juga berkat yang akan kita terima.
  2. Antara masa menabur dan masa menuai diperlukan waktu serta proses yang harus dilalui. Dalam Kejadian 26:12 dikatakan, "...dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat..." Nah, ini berarti ada kurun waktu tertentu yang harus dilalui Ishak sebelum ia bisa mendapatkan hasil yang besar itu.

Tidak bisa dijelaskan secara persis berapa lama Ishak harus menunggu hasil yang akan diperolehnya itu. Mungkin bisa tiga bulan, enam bulan, sembilan bulan, atau setahun. Tetapi yang jelas disebutkan bahwa dalam waktu selama setahun itu, Ishak mendapatkan hasil seratus kali lipat.
Jadi kalau kita berkorban atau memberikan sesuatu kepada Tuhan, kita harus memberikan waktu dan kesempatan bagi Allah untuk bisa bekerja. Faktor waktu ini harus kita mengerti dan sadari dengan baik. Ada suatu proses yang harus kita lalui, di mana kita mempercayakan benih yang ditabur kepada Allah.Janganlah kita mengharapkan bahwa hari ini memberi atau berkorban kemudian besok pagi akan menerima hasil atau berkat yang besar.
Seperti seorang petani, ia tahu bahwa benih itu memerlukan waktu untuk bertumbuh sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang dinanti-nantikan. Hasil atau panen itu tidak dapat dipercepat ataupun diperlambat, kalau masanya bertumbuh, ya akan bertumbuh dengan sendirinya. Kalau berbungan, ya akan berbunga sendiri. Kalau masa berbuah tiba apa yang ditanam itu pasti akan berbuah.Demikianlah seterusnya.Disini harus ada proses dan kurun waktu tertentu yang harus dilewati. Kita pun juga harus bersikap seperti seorang petani, yaitu mempercayakan apa yang kita tabur itu sepenuhnya kepada Allah.

2.Berkat itu dinyatakan Melalui Mujizat Tuhan.
Hanya Tuhanlah yang dapat mengubah benih menjadi buah atau hasil panen yang kita harapkan. Secara rohani, hanya Dia lah yang dapat mengubah korban persembahan kita menjadi berkat yang besar dalam kehidupan kita. Dengan kata lain, di sini Tuhan menyatakan kuasa atau mujizatnya.
Ishak mengalami mujizat Tuhan itu. Dalam Kejadian 26:12 bagian akhir dikatakan, ". . . sebab ia diberkati Tuhan". Mujizat Tuhan itulah yang menjadikan Ishak sebagai orang yang sangat kaya di negeri Gerar, ia menerima hasil panen yang sangat besar setelah menabur di tanah yang kering.

Ketika pembangunan gereja beberapa waktu yang lalu sedang berlangsung, ada beberapa orang ibu yang datang kepada saya memberikan persembahan mereka untuk membantu pekerjaan pembangunan itu. Dengan tulus ikhlas mereka mengorbankan apa yang dapat mereka berikan kepada Tuhan. Dilihat dari jumlahnya, barangkali pemberian mereka itu tidak banyak. Ada yang lima ratus, empat raus rupiah.Pengorbanan mereka membuat hati saya sangat terharu.

Salah seorang di antara ibu-ibu tadi bekata kepada saya, "Pak Yohan, saya titip uang ini untuk pembangunan gereja ". Saya tidak sampai hati melihat ibu itu, dan berkata kepadanya, "SudahlahIbu, uang ini dipakai Ibu saja. Saat ini Ibu pun sedang membutuhkannya ". Tetapi ia berkata "Tidak apa-apa pak. Biar saja uang ini saya persembahkan untuk membantu pekerjaan Tuhan, walaupun jumlahnya mungkin sangat sedikit".

Sebenarnya saya sangat kasihan melihat ibu tadi. Ia sendiri sedang berada dalam kekurangan, dan uang itu pasti diperlukannya pada saat itu. Karena itu mula-mula saya bermaksud mencegahnya agar tidak usah mempersembahkan uangnya. Akan tetapi, Tuhan menegur saya setelah saya sampai di rumah. Tuhan mengingatkan saya suatu kisah dalam Perjanjian Lama, yaitu tentang janda Sarfat yang diceritakan dalam 1 Raja-raja 17:7-24.
Dalam hatinya, barangkali Elia juga tidak tega meminta dibuatkan roti dari tepung yang tinggal sedikit milik janda itu.
Pada waktu itu pula, Tuhan berkata kepada saya, "Jika Ibu itu tidak menabur, ia tidak akan menuai dan memperoleh panen.Justru kalau engkau menerima persembahannya, berarti ia diberi kesempatan untuk menabur sekalipun dalam kekurangan. Ia akan panen di musim paceklik".
Ibu tersebut seperti janda Sarfat yang bertemu dengan Elia. Tuhan pasti memberkatinya sebagaimana Ia telah memberkati janda Sarfat dengan sangat ajaib, sehingga hidupnya tidak pernah kekurangan lagi walaupun masa kelaparan atau paceklik belum berakhir.
Nah Saudara, dari kisah atau peristiwa di atas, kita melihat suatu prinsip Alkitab yang sangat penting untuk kita terapkan dan lakukan. Barangsiapa menabur, ia aakan menuai. Sebaliknya, orang yang tidak pernah menabur juga tidak akan menuai atau menerima berkat dari Tuhan.
Bila kita menaati prinsip firman Tuhan tersebut, kuasa atau mujizat Tuhan pasti akan dinyatakan kepada kita.Ia akan melimpahkan berkat-Nya di tengah-tengah kekeringan atau kekurangan yang sedang terjadi.

Arti Diberkati Tuhan.
Ishak diberkati Tuhan secara luar biasa.Ia memperoleh hasil panen seratus kali lipat pada waktu musim paceklik. Orang yang diberkati Tuhan itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga akhirnya menjadi sangat kaya.
Maukah Saudara diberkati Tuhan seperti Ishak? Jika Saudara mau, terapkan dan lakukan prinsip Firman Tuhan di atas yang sangat penting ini.
Apakah artinya diberkati Tuhan? Ada dua buah arti tentang hal ini yang harus kita ketahui.

 

Pertama, diberkati Tuhan berarti mengalami sukses yang besar, seperti Ishak memperoleh hasil seratus kali lipat. Dengan kata lain, mengalami mujizat Tuhan yang dinyatakan secara luar biasa. Apapun yang dilakukan atau dijamah menjadi berhasil, kalau berusaha,berhasil dengan baik. Kalau menabur benih, akan bertumbuh dan menghasilkan panen yang besar. Kalau membuka toko, barang dagangannya laris terjual. Dan masih banyak contoh lainnya yang dapat dijabarkan di sini.

Kedua, diberkati Tuhan juga berarti bahwa Tuhan akan membuka atau memberikan jalan lainnya apabila jalan yang sedang dilalui mengalami kemacetan atau kebuntuan.Jadi, jika sumber nafkah yang satu macet, Tuhan pasti akan membuka sumber yang lain. Jika jalan yang satu tertutup, Tuhan pasti akan membuka jalan yang lain.

Berkat Tuhan Dicurahkan Kepada Orang Yang Percaya Kepada-Nya

Ishak benar-benar merupakan gambaran atau figur dari orang Kristen yang diberkati Tuhan. Setelah ia mendapat hasil seratus kali lipat, selanjutnya dikatakan dalam Kejadian 26: 17-19 sebagai berikut: Jadi pergilah Ishak dari situ dan berkemahlah ia di lembah Gerar, dan ia menetap di situ. Kemudian Ishak menggali kembali sumur-sumur yang digali dalam jaman Abraham, ayahnya dan yang telah ditutup oleh orang Filistin sesudah Abraham mati; disebutkannyalah nama sumur-sumur itu menurut nama-nama yang telah diberikan oleh ayahnya. Ketika hamba-hamba Ishak menggali di lembah itu, mereka mendapati di situ mata air yang berbual-bual airnya.

Dalam peristiwa selanjutnya tadi dikatakan bahwa bersama hamba-hambanya, Ishak menggali kembali sumur-sumur yang telah ditutup oleh orang-orang Filistin. Sebenarnya sumur-sumur itu telah mati, tak ada airnya sama sekali karena daerah Gerar dilanda kekeringan yang dahsyat, karena itulah orang-orang Filistin lalu menutupnya.

Akan tetapi sangat aneh, dikatakan dalam kisah tadi bahwa ketika hamba-hamba Ishak menggali di lembah itu, mereka mendapati di situ mata air yang berbual-bual. Mengapa bisa terjadi demikian? Hal ini bisa terjadi karena Ishak diberkati Tuhan.

Tuhan menyatakan mujizatnya kepada orang yang sungguh-sungguh mengenal dan percaya kepada-Nya. Orang-orang Filistin mengalami kekeringan sehingga banyak sumur mereka yang mati dan akhirnya ditutup. Tetapi setelah digali oleh Ishak dan hamba-hambanya, sumur-sumur itu mengeluarkan air yang sangat berlimpah-limpah. Bukankah itu merupakan suatu hal yang ajaib dan mengherankan?

Dari peristiwa tersebut di atas, kita bisa melihat bahwa Tuhan melimpahkan berkat-Nya kepada anak-anak-Nya lebih daripada orang-orang yang tidak percaya kepada-Nya.Suatu usaha tidak bisa jalan dengan lancar atau mengalami kemacetan bila dijalankan oleh orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Tetapi usaha yang sama itu bila dijalankan oleh anak Tuhan yang sungguh-sungguh percaya kepada-Nya, bisa berjalan dengan baik dan berhasil.

Tuhan memberikan berkatnya melalui mujizat yang tak dialami oleh orang-orang yang tidak percaya kepada-Nya.

3.Mengalami Pertumbuhan Secara Rohani.
Dikatakan dalam Kejadian 26:23-25 sebagai berikut: Dari situ ia pergi ke Bersyeba.Lalu pada malam itu Tuhan menampakkan diri kepadanya serta berfirman, " Akulah Allah ayahmu Abraham, janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan membuat banyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu ". Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ, lalu hamba-hambanya menggali sumur di situ.
Ishak bukan hanya merupakan gambaran dari orang Kristen yang diberkati Tuhan. Tetapi ia juga merupakan ambaran dari orang Kristen yang bertumbuh secara rohani, yaaitu dalam hubungan pribadinya dengan Tuhan.
Dari peristiwa yang disebutkan dalam Kejadian 26:23-25 itu, ada dua hal yang dapat kita lihat sebagai bukti atau tanda bahwa Ishak mengalami pertumbuhan secara rohani dalam hubungan pribadinya dengan Tuhan.Pertama, dalam aaayat 24 dijelaskan bahwa Tuhan menampakkan diri kepadanya pada suatu malam. Dengan kata ain,pada waktu itu Ishak memperoleh penglihatan dari Tuhan.
Kapankah seseorang bisa mendapatkan penglihatan ? Tentu hal itu tidak terjadi pada waktu ia tidur tetapi terjadi ketika ia sedang berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan. Nah, pada malam hari ketika Ishak masih berdoa itulah, Tuhan menampakkan diri kepadanya. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan rohani Ishak bertumbuh.

Hanya orang yang bertumbuh rohaninyalah yang bisa berdoa dengan sungguh-sungguh sehingga dapat bertemu dengan Tuhan dalam doanya, bahkan dapat memperoleh penglihatan dari Tuhan. Sebaliknya, orang yang kehidupan rohaninya tertidur, tidak bertumbuh, atau mati, tidak akan pernah memperoleh penglihatan dari Tuhan pada saat ia berdoa.
Kedua, dalam ayat 25 dikatakan bahwa sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di Bersyeba dan memanggil nama Tuhan. Mezbah adalah untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan. Hal ini menunjukkan kehidupan rohani Ishak yang bertumbuh.
Hanya orang yang seperti itulah yang ingin dan dapat mempersembahkan korban kepada Tuhan. Ia tidak lagi menjadi orang yang hanya mementingkan diri sendiri saja, atau hanya mau menerima berkat dari Tuhan saja. Tanpa diminta, Ishak dengan sendirinya dan secara sukarela memberikan korban kepada Allahnya. Hidupnya tidak lagi hanya bekerja untuk dirinya sendiri atau keluarganya, akan tetapi ia ingin melayani Tuhan dalam kehidupannya. Sungguh ini merupakan suatu hal yang sangat indah dan menyenangkan hati Tuhan.
Ishak menerima berkat yang ganda dari Tuhan. Secara jasmani ia bertambah kaya, sehingga menjadi orang yang sangat kaya di daerah yang sedang kelaparan. Secara rohani ia juga semakin bertumbuh , dan semakin mengasihi Tuhan.
Sekarang ini pun Tuhan juga sedang mencari orang-orang Kristen yang seperti Ishak. Ia mencari orang-orang yang bisa mengasihi Dia dengan sungguh-sungguh dan mau terlibat dalam pekerjaan-Nya serta melayani Dia. Tuhan Yesus mencari orang -orang yang siap diberkati-Nya secara luar biasa,siap untuk mengalami pertumbuhan dalam kehidupan rohaninya, dan juga siap mempersembahkan korban kepada Tuhan sebagai rasa syukur atas berkat yang telah dilimpahkan-Nya.
Marilah kita mempunyai kerinduan yang sama, yaitu bisa menjadi orang Kristen yang seperti Ishak. Bukan sebaliknya, setelah diberkati Tuhan dengan berkat berkelimpahan malah menjadi orang Kristen yang sombong, tinggi hati atau malah meninggalkan Tuhan.

4. Menjadi Kesaksian Bagi Orang Dunia.

Setelah Ishak diberkati Tuhan secara luar biasa dan kehidupan rohaninya terus semakin bertumbuh, akhirnya hidupnyapun menjadi kesaksian bagi orang-orang dunia yang tidak mengenal Allah yang hidup.

Hal ini dikatakan dalam Kejadian 26:26-29 sebagai berikut: Datanglah Abimelekh dari Gerar mendapatkannya, bersama-sama dengan Ahuzat, sahabatnya, dan Pikhol, kepala pasukannya. Tetapi kata Ishak kepada mereka,"Mengapa kamu datang mendapatkan aku ? Bukankah kamu benci kepadaku, dan telah menyuruh aku keluar dari tanahmu? " Jawab mereka, "Kami telah melihat sendiri, bahwa Tuhan menyertai engkau, sebab itu kami berkata: baiklah kita mengadakan sumpah setia, antara kami dan engkau; dan baiklah kami mengikat perjanjian dengan engkau, bahwa engkau tidak akan berbuat jahat kepada kami, seperti kami tidak mengganggu engkau, dan seperti kami semata-mata berbuat baik kepadamu dan membiarkan engkau pergi dengan damai; bukankah engkau sekarang yang diberkati orang".

Kehidupan Ishak menjadi kesaksian bagi Abimelekh dan sahabat-sahabatnya, yaitu orang-orang yang tidak mengenal Allah. Mereka berkata kepada Ishak," Kami telah melihat sendiri bahwa sesungguhnya engkau adalah orang yang disertai Tuhan dan Tuhan memberkati engkau". Hal ini merupakan penggenapan janji Tuhan kepada Ishak dalam ayat 24,". . . janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku memberkati engkau ...". Abimelekh, Ahuzat dan Pikhol melihat kedua janji itu dinyatakan dalam kehidupan Ishak.
Orang-orang dunia ini bisa melihat bahwa Ishak adalah orang yang disertai dan diberkati Tuhan secara luar biasa. Karena itu mereka menjadi takut dan hormat kepadanya, sehingga mereka mengikat sumpah setia untuk idak saling memusuhi. Mereka ingin menjalin persahabatan dan perdamaian dengannya.
Dalam Kejadian 26:30-31 dikatakan : Kemudian Ishak mengadakan perjamuan bagi mereka, lalu mereka makan dan minum. Keesokan harinya pagi-pagi bersumpah-sumpahanlah mereka, dan mereka meninggalkan dia dengan damai.
Bagaimanakah dengan kehidupan saudara pada saat ini? Apakah Saudara juga sudah menjadi kesaksian bagi orang-orang dunia? Apakah mereka bisa melihat bahwa Saudara adalah orang yang disertai dan diberkati Tuhan? Janji Tuhan yang diberikan kepada Ishak itu juga diberikan-Nya kepada Saudara.